Friday, August 19, 2011

Siswa SMP Terbuka Butuh Bapak Angkat


Jakarta -  Meski Lomba Motivasi Belajar Mandiri untuk SMP Terbuka yang digelar di Kementerian Pendidikan Nasional pada 4-7 Juli telah selesai, masih tersisa pertanyaan di benak para siswa didik dan guru pembimbing, tentang bagaimana kelanjutan hasil tangan mereka di masa depan.

Kendati produk hasil karya mereka merupakan produk yang telah melalui seleksi di daerahnya, tapi tetap saja kebanyakan produk tersebut baru dikenal di lingkungan di dalam maupun sekitar sekolah. Kurangnya modal untuk mempromosikan produk mereka jadi salah satu kendala. Padahal hasil kreativitas mereka tersebut memiliki daya jual yang cukup tinggi. Melihat kendala yang dihadapi SMP Terbuka ini, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Suyanto menilai perlunya bapak angkat bagi siswa SMP Terbuka.

Wacana bapak angkat disambut baik oleh guru pembimbing yang diwawancarai saat lomba berlangsung. Suryati misalnya, guru pembimbing dari SMP Terbuka 3 Kendari, Sulawesi Tenggara ini mengatakan,  salah satu kendala yang dihadapi oleh siswa-siswanya saat ini adalah bagaimana memperoleh bahan dasar untuk produk mereka. Bahan dasar tekstil dan besi lunak untuk peralatan rumah tangga tidak diproduksi di daerah mereka. "Di Kendari tidak ada bahan dasar ini, kami harus beli jauh ke Makassar," katanya seusai penutupan lomba, 7 Juli, di kantor Kemdiknas, Jakarta.

Begitu juga dengan Herman Sulaiman, guru pembimbing SMP Terbuka Pasar Minggu. Latar belakang ekonomi siswanya dari kalangan menengah ke bawah. Jadi dia mengajarkan pada siswanya bagaimana mengolah makanan rakyat seperti singkong menjadi makanan model internasional yang terjangkau harganya. Lagi-lagi produk mereka terkendala pada pemasaran. "Kami berharap makanan olahan kami ini bisa dikenal semua kalangan masyarakat, dan bagaimana caranya agar kami bisa kerjasama dengan industri yang lebih besar," katanya.

Sama halnya dengan Dewi, guru bina dari SMP Terbuka di Medan, Sumatera Utara, dalam Lomojari ini siswa-siswanya memamerkan sepatu dan sandal wanita. Dewi mengaku siswanya mampu mengerjakan sepatu dan sandalnya dengan baik dan cepat. Tapi untuk memasarkan keluar dari lingkungan sekolah, mereka butuh dukungan biaya dan akses. "Yang membeli produk siswa kami baru para guru dan masyarakat sekitar saja," ujarnya.

Bapak angkat bisa menjadi penanggung jawab atas produk yang mereka hasilkan. Mulai dari menyediakan bahan dasar untuk diolah oleh siswa-siswa SMP Terbuka, sampai dengan memasarkan produk mereka setelah menjadi barang layak jual. Dan untuk mengolah bahan dasar menjadi barang jadi layak jual, guru pembimbing harus memperhatikan pekerjaan mereka dengan detail, bahkan sampai ke finishing yang sering diabaikan oleh pengrajin lokal. (Aline)

No comments:

Post a Comment